I hate being mad at you.
5 sec..
10 sec..
I
remember...
30 sec...
60 sec...
I remember the first time I realized I loved you.
It was when I realized that anything that ever happened,
good or bad, I wanted to tell you about.
You were the first person I wanted
to know,
and I couldn't wait to tell you, and talk to you.
and, and, and.
and listen
to you, it's like I love learning new things every time I talk to you.
Sounds cheesy, hm?
Tampilkan postingan dengan label poetry. Tampilkan semua postingan
the first time you knew it was love.
And I don't mind, If we take our time, cause I'm all yours If you're all mine.
"Aku selalu khawatir."
"Khawatir? Aku... aku antara excited,
dan takut."
Aku selalu khawatir dengan masa depan. Maka kali ini
pertanyaanmu membunuhku. Tepat sasaran di titik lemah dinding kecemasan.
Menguak pertanyaan didasarkan keegoisan pernyataan. Entah kamu tahu atau tidak,
dahiku mengerut tanpa sadar. Sebentar lagi aku akan mengatakan hal bodoh, yang
siap-siap akan dikalahkan dengan argumenmu.
"Masa depan itu gamblang,
menurut aku. Kadang, perencanaan hidup engga sejalan sama kenyataan karena
beberapa faktor merusak ekspetasi."
"Faktor apa?"
Ucapanku bukan suatu bentuk pesimisme. Aku baru akan
melewati jembatan tali. Di seberang sana kamu memperingatkanku untuk tidak
menengok ke bawah atau belakang. Maka aku tidak. Setidaknya kamu sudah bisa
sedikit menghela nafas lega, untuk keberhasilan melewatinya. Sesampainya aku di
seberang, tertawakan saja aku dengan senyum sarkasmu. Supaya aku bisa
membalasnya dengan pelukanku.
Baiklah, simpulkan saja kita sama-sama punya mimpi. Aku dan
kamu punya rencana. Aku dan kamu punya impian. Bahkan ada kita di beberapa
bagiannya. Diantara sekian mimpi-mimpi, fokuskan saja dulu, seperti katamu.
Yah, aku harap Dia mengabulkan Amin-ku disetiap Amin-mu.
Jadi, tolong maklumi saja kekhawatiran-ku. Seperti aku
khawatir dengan ketakutan-mu.
###
Seperti biasa, kamu diam.
Tapi kali ini kamu sudah bersuara
tanpa aku harus mulai bertanya.
Nada suaramu meninggi.
Kamu terlalu naif.
Coba turunkan dulu nada suaramu,
Atau perlu aku tutup bibirmu
dengan bibirku?
....................
Aku mulai ingin bertanya, tanpa
tanda tanya.
Agar kamu tidak perlu berseru,
dengan tanda seru.
###
Fragile figures.
Terbilang, rasa.
Menangkap kata, merangkai makna.
Hilangnya akal, sudah.
Setara air yang tak pernah mati.
Seindah yang tak terdefinisi panca indra.
Terpolesnya retak.
Tersulutnya api.
Menghati-hatikan, hati.
#16813.
Conversation with the time
aku tanyakan tiga kata yang terucap begitu saja. dan disusul dengan diam. sunyi.
tidak perlu jawaban sebenarnya, karena aku tahu, aku tidak akan puas.
atau mungkin, belum.
"iya, percaya."
senyum kecil tersirat jelas, dari bibirku, tentunya. lalu apa? aku tidak akan bertanya kenapa. karena semua jawaban yang pernah kudengar terdengar sama, walaupun dengan pilihan kata berbeda. suara penyiar tersiar dari radio, kita masih membisu. tenggelam dalam tanda tanya yang sama, mungkin.
"aku percaya pertemuan kita bukan kebetulan."
katamu.
aku yakin oksipetal ini masih berfungsi dengan baik, untuk menyimpan segala detailnya. iya, kamu benar. pertemuan kita bukan kebetulan. egoisnya aku terlalu larut dalam ketakutan. memikirkan segala pikiran terburuk yang pernah ada. bedanya denganmu, kamu seorang idealis yang paling mengagumkan.
kita terlalu menikmati masa. biarlah. waktu tidak akan pernah keberatan untuk memberikan apa yang dia punya. tapi perjalanan takdir terus berjalan, mengiringi.
kita dalam garis takdir yang sama bukan?
ah, aku sudah sampai depan rumah. meminta waktu berhenti bekerja terasa percuma, dia tidak pernah menuruti permintaan siapapun. waktu memang selalu jahat. tapi disini bukan salah siapa-siapa. kita yang terlalu candu untuk saling bertemu.
"makasih ya hari ini, aku senang"