You Should've Known by the Tone of My Voice.

No Comments »

"kamu ga ngebantu apa2, biar aku yang usaha sendiri gimana caranya sekarang ngebahagiain diri aku sendiri dengan rutinitas yang sama tapi tanpa kamu." I said.

"Aku tau kok kita ini rumit.. Hmm apa ya.. Kaya udah pengen mati rasa kok tapi masih kerasa. Yang kangen bukan cuma kamu vir, aku juga. Selalu. Akupun ga ngelarang kamu mau gimana, karena keadaan kita yang jauh dari mungkin. Dan akunya, ironically, gabisa berbuat apa2.

Aku tau, mungkin kita punya cara masing-masing buat sembuhin luka, atau melupakan, atau bahkan masih cari cara yang tepat untuk itu. Dan aku tau juga itu ga gampang, buat kamu ataupun aku. Mungkin dengan masih adanya aku di sini bikin hal itu jadi ga pernah mudah, makin sulit malah. Dan aku gatau apa yang ada di pikiran kamu saat ini, tapi aku tau perasaan kamu gimana yang mungkin sama kaya aku sekarang.

Iya, emang aku gabisa bantu apa2, sedih bgt sih. Dan yaudah, kamu punya kebebasan dan hak untuk milih, you know better whats good for yourself.

Tunggu ya mixtape yang lagi aku bikin, masih mau nunggu buat yang ini kan? Belum tau sih bisa selesai kapan haha

Dan satu hal lagi, if someday somehow things get better for both of us, aku harap kita masih baik-baik aja. And deep down inside.. I still.. Forever still.

It's you that i'm waiting for. Always for you. Tell me when everythings just fine, i'm gonna tell a story about you without me. Vice versa. Without heavy heart." he said.

02/09/16 - 00:53.

When You Feel Embarrassed Then I'll be Your Pride When You Need Directions Then I'll be the Guide. For All Time.

No Comments »

Di ratusan hari yang sudah kita lewati, aku masih terus mencari kata untuk mendefinisikan makna dari rasa yang melebihi bahagia. Di ratusan hari yang sudah kita lewati, aku masih terus bersyukur kepada Tuhan sebagai sutradara kehidupan, atas selalu terciptanya dialog diantara kita. Di ratusan hari yang sudah kita lewati, aku masih dapat menemukan kamu, sebagai sebab-sebab aku beraksara.

Aku bukan sedang akan mengulik ulang kisah kita dan tentang ratusan hari yang sudah kita lewati.
Aku hanya kagum. Dengan caramu. Dengan bagaimana sihir-sihirmu, menghipnotisku.

Di ratusan hari yang sudah kita lewati,
Aku jatuh cinta,

...Setiap harinya.

the first time you knew it was love.

No Comments »

I hate being mad at you.

5 sec..

10 sec..

I remember...

30 sec...
 
60 sec...

I remember the first time I realized I loved you.

It was when I realized that anything that ever happened,
good or bad, I wanted to tell you about.

You were the first person I wanted to know,
and I couldn't wait to tell you, and talk to you.

and, and, and.

and listen to you,  it's like I love learning new things every time I talk to you. 


Sounds cheesy, hm?

7 Lines, 77 Words.

No Comments »

Hi!

It's been a long time since my last post, and a lot has happened. But I do have reasons for that.

After a lot exams, deadlines, due dates, tiredness, a hectic day, and a busy week, finally I have about a week off from school. Thank God for that.

00:50, I won't talk much here now.

...But can we have some late night conversations?

Cause I need to hear your voice before I sleep.

And I don't mind, If we take our time, cause I'm all yours If you're all mine.

No Comments »

          "Aku selalu khawatir."

                                                     "Khawatir? Aku... aku antara excited, dan takut." 

Aku selalu khawatir dengan masa depan. Maka kali ini pertanyaanmu membunuhku. Tepat sasaran di titik lemah dinding kecemasan. Menguak pertanyaan didasarkan keegoisan pernyataan. Entah kamu tahu atau tidak, dahiku mengerut tanpa sadar. Sebentar lagi aku akan mengatakan hal bodoh, yang siap-siap akan dikalahkan dengan argumenmu.

        "Masa depan itu gamblang, menurut aku. Kadang, perencanaan hidup engga sejalan sama kenyataan karena beberapa faktor merusak ekspetasi."

"Faktor apa?"

Ucapanku bukan suatu bentuk pesimisme. Aku baru akan melewati jembatan tali. Di seberang sana kamu memperingatkanku untuk tidak menengok ke bawah atau belakang. Maka aku tidak. Setidaknya kamu sudah bisa sedikit menghela nafas lega, untuk keberhasilan melewatinya. Sesampainya aku di seberang, tertawakan saja aku dengan senyum sarkasmu. Supaya aku bisa membalasnya dengan pelukanku. 

Baiklah, simpulkan saja kita sama-sama punya mimpi. Aku dan kamu punya rencana. Aku dan kamu punya impian. Bahkan ada kita di beberapa bagiannya. Diantara sekian mimpi-mimpi, fokuskan saja dulu, seperti katamu. Yah, aku harap Dia mengabulkan Amin-ku disetiap Amin-mu.

Jadi, tolong maklumi saja kekhawatiran-ku. Seperti aku khawatir dengan ketakutan-mu. 

###

Seperti biasa, kamu diam.
Tapi kali ini kamu sudah bersuara tanpa aku harus mulai bertanya.
Nada suaramu meninggi.

Kamu terlalu naif.

Coba turunkan dulu nada suaramu,
Atau perlu aku tutup bibirmu dengan bibirku?

....................
Aku mulai ingin bertanya, tanpa tanda tanya.
Agar kamu tidak perlu berseru, dengan tanda seru.


###